Makalah Logika | Definisi | Objek Material dan Objek Formal Logika| Fungsi | Sejarah | Kegunaan Logika..!!

PENDAHULUAN
Absen nge-Pos beberapa hari ini dikarenakan admin disibukan dengan persiapan mau kedatangan tamu agung, yang selalu ditunggu-tunggu oleh pasangan yang sudah menikah, kiranya pembaca bisa memakluminya dan tidak mengurangi rasa kangeun admin pada pembaca pula. Pada postingan kali ini sekarang admin akan membahas sebuah Makalah Filsafat mengenai Logika yang mudah-mudah bisa bermanfaat buat kita semua khususnya sebagai manusia yang selalu menggunakan otak dengan fungsi logikanya dalam mengarungi luasnya dunia dengan berjuta masalah yang ada didalamnya.
PEMBAHASAN
A.   Definisi Logika Selaku Ilmu Penalaran Sistematis
Secara etimologis, logika adalah istilah yang dibentuk dari kata óς – logikos yang berasal dari kata benda lóγος – logos. Kata lóγος berarti sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (pikiran, percakapa, atau ungkapan lewat bahasa.
Logika adalah suatu pertimbangan akal atau pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah ilmu pengetahuan (science). Ilmu mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui, sedangkan kecakapan atau keterampilan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan.
Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari, menyusun, mengembangkan, dan membahas asas-asas, aturan-aturan formal, prosedur-prosedur, serta criteria yang sahuh bagi penalaran dan penyimpulan demi mencapai kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan secara rasional.
B.   Objek Material dan Objek Formal Logika
Suatu ilmu pengetahuan hanya dapat disebut ilmu pengetahuan apabila ia memenuhi persyaratan yang dituntut oleh ilmu pengetahuan secara umum yang harus harus dimiliki adalah objek material dan objek formal.
Objek material suatu ilmu ialah materi atau bidang penyelidikan ilmu bersangkutan, sedangkan objek formalnya ialah bagaimana objek material tersebut dipandang. Sebagai contoh, psikologi, sosiologi, dan pedagogi memiliki objek material yang sama, yaitu manusia.
Akan tetapi, ketiga ilmu itu berbeda karena objek formalnya berbeda. Objek formal psikologi ialah aktivitas jiwa dan kepribadian manusia secara individual yang dipelajari lewat tingkah laku, objek formal sosiologi ialah hubungan antar manusia dalam kelompok dan antar kelompok dalam masyarakat, sedangkan objek formal pedagogi ialah kegiatan manusia untuk menuntun perkembangan manusia lainnya ke tujuan tertentu.
Sesungguhnya objek material logika adalah manusia itu sendiri, sedangkan objek formalnya ialah kegiatan akal budi untuk melakukan penalaran yang lurus, tepat, dan teratur yang terlihat lewat ungkapan pikirannya yang diwujudkan dalam bahasa.
C.   Tempat Logika dalam Peta Ilmu Pengetahuan
Aristoteles (384-322 SM) membagi ilmu pengetahuan ke dalam tiga kelas atau tiga kelompok sebagai berikut :
  1. Filsafat Spekulatif atau Filsafat Teorites, yang bersifat objektif dan bertujuan pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri. Kelompok ini terdiri atas fisika, metafisika, biopsikologi, dan teologia.
  2. Filsafat Praktika, yang memberi pedoman bagi tingkah laku manusia. Kelompok ini terdiri atas etika dan politik.
  3. Filsafat Produktif, yang membimbing manusia menjadi produktif lewat keterampilan khusus. Kelompok ini terdiri atas kritik sastra, retorika, dan estetika.
Auguste Comte (1798-1857) membagi ilmu pengetahuan ke dalam dua kelompok sebagai berikut :
Ilmu pengetahuan positif
1) Logika atau matematika murni
2) Ilmu pengetahuan Empiris, terdiri atas Astronomi, Fisika, Kimia, Fisiologi, Sosiologi Fisika, dan lain-lain.
Filsafat
1) Metafisika
2) Filsafat Ilmu Pengetahuan, terdiri atas umum dan khusus
Pada masa kini adapula yang membagi ilmu pengetahuan ke dalam tiga kelompok sebagai berikut :
Ilmu Pengetahuan Absatrak (The Abstract Sciences), terdiri atas metafisika, logika, matematika
Ilmu Pengetahuan Alam (The Natural Sciences), terdiri atas fisika, kimia, biologi, geologi dan lain-lain.
Ilmu Pengetahuan Humanis (The Human Sciences), terdiri atas psikologi, sosiologi, antropologi , filologi.
Apabila dilihat dari segi fungsi dan tujuannya :
1) Ilmu Teoritis, terdiri atas :
a. Deskriptif (ideografis), yaitu ilmu-ilmu sejarah, sosiografi, etnografi, dan sebagainya.
b. Nomotetis (eksplanatif), yaitu ilmu-ilmu kimia, ekonomi, sosiologi, dan sebagainya.
2) Ilmu Terapan terdiri atas
a. Normatif, yaitu ilmu-ilmu logika, etika, hukum, dan sebagainyanya
b. Positif (pragmatis), yaitu Ilmu-ilmu teknik, pertanian, psikiatri, dan sebagainnya.
D.   Sejarah Logika
Sesunggunya, sejak Thales (624-548 SM), filsuf Yunani pertama, akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta, Thales mengatajan bahai air adalah άρχή ­– arkhe (prinsip atau asas pertama) alam semesta, ia telah memperkenalkan logika induktif.
Penalaran induktif yang dilakukan Thales adalah sebagai berikut :
Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan
Air adalah jiwa hewan
Air adalah jiwa manusia
Air jugalah uap, dan
Air jugalah es.
Dengan demikian, sejak Thales, sang filsuf pertama, logika telah mulai dikembangkan. Filsuf yang pertama kali menjadikan logika sebagai ilmu sehingga dapat disebut sebagai logica scientia ialah Aristoteles. Namun Aristoteles belum menggunakan istilah logika menjadi nama ilmu tersebut, namun disebut antara lain, analitika. Aristoteles mewariskan kepada murid-muridnya enam buku, yang oleh murid-muridnya dinamai τόőργανον to Organon, yang berarti alat.
Keenam buku itu ialah :
1)    Catagoriae, menguraikan pengertian-pengertian
2)    De interpretatione, membahas keputusan-keputusan
3)    Analytica priora, membahas pembuktian
4)    Analytica posteriora, membahas pembuktian
5)    Topica, berisi cara beragumentasi atau cara berdebat
6)    De sophisticis elenchis, membicarakan kesesatan dan kekeliruan berpikir.
Inti logika Aristoteles ialah silogisme. Yang merupakan penemuan murni Aristoteles dan yang terbesar dalam logika. Theopharatus (370-288 SM) murid Aristoteles yang menjadi pemimpin Lyceum.
Istilah logika pertama kali digunakan oleh Zeno dari Citium kaum Stoa yang mengembangkan bentuk-bentuk argument disyungtif dan hipotetis. Sehingga lahir satu ungkapan yang mengatakan “Tanpa Chrysippus, Stoa tidak akan pernah ada. Chrysippus mengembangkan logika menjadi bentuk-bentuk penalaran sistematis.
Dua orang dokter medis, Galenus (130-200 SM) dan Sextus Empiricus (sekitar 200 SM), mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri. Porphyrius (232-305) membuat suatu pengantar (eisogoge) pada Categoriae Aristoteles. Eisagoge diterjemahkan ke dalam bahas Latin oleh Boethius (480-524)
Pada abad kelima belas, tampillah logika modern dengan tokoh-tokohnya antara lain  Petrus Hispanus (1210-1278), Roger Bacon (1214-1292), Raymundus Lullus (1232-1315) dan William Ockham (1285-1349).
Kendatipun Logika Aritoteles tetap digunakan dan dikembangkan secara murni, diteruskan oleh Thomas Hobbes (1588-1679) dan Jhon Lock (1632-1704), Francis Bacon (1561-1626) mengembangkan logika induktif. Gottfried Wilhelm Leibniz pelopor logika simbolik.
Kemudian Charles Sanders Peirce melengkapi logika simbolik kewat karya tulisannya. Ia menafsirkan logika selaku teori umum mengenai tanda (general theory of sign) dan melahirkan dalil yang disebut dalil Peirce (Peirce’s law). Logika simbolik mencapai puncaknya lewat karya bersama Alfred North Whitehead, Bertrand Arthur William Russell berjudul Principia Mathematica, berjumlah tiga jilid ditulis pada tahun 1910-1913. Diteruskan oleh Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Rudolf Carnap (1891-1970, Kurt Godel (1906-1978) dan lain-lain.
E.    Logika Tradisional dan Logika Modern
Logika Modern, yang juga dikenal dengan nama logika simbolik atau logika matematika. Dalam abad 20 telah lahir corak-corak baru logika modern yang berbeda dengan prinsip-prinsip logika tradisional, seperti logika modalitas (modal logic), logika bernilai banyak (many-valued logic), system implikasi nonstandard (nonstandard system of implication) dan system kuantifikasi nonstandard (non system of quantification).
Logika tradisional membahas dan mempersoalkan definisi, konsep, dan term menurut struktur, susunan dan nuansanya, serta seluk beluk penalaran memperoleh kebenaran yang lebih sesuai dengan realitas. Martin Heideger (1889-1976) berpendapat bahwa logika modern mengabaikan cara berpikir yang sesungguhnya. Logika modern tetap tidak dapat menggeser kedudukan logika tradisional.
F.    Kegunaan Logika
Pertama, membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tepat, tertib, metodis, dan koheren ; kedua, meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif ; ketiga, menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri ; keempat, meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kekeliruan serta kesesatan.
KESIMPULAN
Ilmu pengetahuan tanpa logika tidak akan pernah mencapai kebenaran ilmiah. Sebagaimana dikemukakan oleh Bapak Logika, Aristoteles, logika benar-benar merupakan alat bagi seluruh ilmu pengetahuan. Oleh karena itu pula, barang siapa mempelajari logika, sesungguhnya ia telah menggenggam master key untuk membuka semua pintu masuk ke berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Terakhir semoga tulisan ini bisa bermanfaat buat kita semua,(maksud ane yang baca lo) ya setidaknya kita sebagai manusia  bisa menggunakan Fungsi Otak kita yaitu diantaranya Logika buat kebaikan dalam memecahkan permasalahan di alam dunia ini karena tidak ada manusia yang terlahir ke dunia ini tanpa membawa & mempunyai masalah, ujian karena memang itu sudah menjadi sunnatullah buat manusia.

Pengunjung